|
Waktu 20 tahun bukan masa yang singkat untuk menunjukkan eksistensi. Kahitna punya “keberuntungan” itu. Selama hampir dua dasawarsa mewarnai belantika musik di tanah air, grup band asal Bandung ini, bisa menjadi ikon band yang konsisten dalam menawarkan karakter lagu nan khas. Dan, hal tersebut makin dikukuhkan lewat album keenam bertajuk “Soulmate”, yang baru dilempar Musica Studio’s, produser album Kahitna ke pasaran, awal Maret 2006. Dan dalam rangka memperingati ulang tahun Kahitna yang ke 20, Kahitna mengelar " Kahitna 20th Birthday, Celebrate it with ur SOULMATE! " di Pisa Cafe - Thamrin, tanggal 25 Juni 2006, jam 9 pm. Kahitna, yang kini berformasi : Yovie Widianto (piano/keyboard), Bambang Purwono (keyboard.sound programming), Andrie Bayuadjie (gitar), Budiana Nugraha (drum), Dody Is (bas), Harry SW (perkusi), Hedi Yunus (vokal), Carlo Saba (vokal) dan tambahan vokalis baru, Mario Ginanjar, menawarkan aneka tembang bertabur kata cinta sederhana dan bermelodi manis dengan aksen “piano song” nan kental. Ciri itu telah ditunjukkan Kahitna dalam enam album yang dihasilkan. Album-album itu bertajuk aneka kata yang juga menjadi judul hits mereka sudah lebih dari 12 tahun nyangkut di telinga yaitu “Cerita Cinta” (1994), “Cantik” (1996), “Sampai Nanti” (1998), “Permaisuriku” (2000), “Cinta Sudah Lewat” (2003) dan “Soulmate” (2006). Tahun 2002, Yovie dan kawan-kawan sempat menelurkan album “The Best of Kahitna”. “Jadi kami total sudah mempunyai enam album plus album kompilasi dan single hits “Adakah Dia” tahun 1989,” ungkap Yovie. Yovie, motor penggerak sekaligus pencipta hampir semua tembang-tembang Kahitna mengakui, menjaga ciri khas warna Kahitna menjadi usaha keras grup band-nya dalam membelai telinga penggemar. “Jangan harapkan kami membuat lagu seperti U2 atau Genesis misalnya. Karena sejak awal kami sudah punya fans solid yang sudah nyaman menikmati warna khas kami seperti ini,” tandas Yovie yang juga sempat membidani kelahiran dan mengawaki grup Yovie and The Nuno ini. Dengan jati diri yang bertahan itu, bukan berarti Kahitna stag dan tak bisa berkembang. Kalaupun ada (dan pasti ada) pengembangan lebih proses kreatifitas lagu, seperti sebatas penggarapan aransemen lagu. Selebihnya, Kahitna nyaman dengan ciri sebagai band pop bersentuhan kemasan piano nan manis. Dalam lirikpun Kahitna atau tepatnya Yovie menancapkan jati diri dengan lirik cinta sederhana tanpa ciri puitis namun tetap terasa orisinil. Simaklah, cuplikan lirik “walau mentari terbit di utara…” dalam tembang “Cantik”. Hal itu agaknya coba diulang Yovie lewat tembang “Diasinin”. Sebenarnya, lirik tembang ini sederhana saja. Ungkapan diasinin, terasa menjadi “istimewa” lantaran inilah kosa kata khas anak muda saat ini untuk menunjukkan situasi “dicuekin” oleh seseorang. Istilah “fungky” itu masuk ke dalam kosa kata lirik-lirik tembang Kahitna dalam album ini bukan tanpa sebab. Setidaknya, “Diasinin” jadi jembatan Kahitna untuk merangkul pasar lebih luas lagi ke komunitas anak remaja atau muda usia. Kosa kata khas ini bukan tak mungkin menjadi ngetop sebagai idiom khusus kelak lewat dendangan Kahitna nan riang. Merangkul pasar yang lebih luas perlu dilakukan band sekelas Kahitna? Mengapa tidak. Inilah strategi dagang yang cukup jitu. Kehadiran Mario, vokalis anyar yang baru beberapa tahun bergabung ke dalam Kahitna, paling tidak menunjukkan kesegaran tersebut. Semenjak keluarnya Ronny Waluya, sejak peluncuran album perdana, Kahitna memang berformasi dua vokalis : Hedi dan Carlo. Selain itu, tercatat Kahitna tetap menyajikan selusin tembang mellow yang bakal nyangkut asyik di telinga penggemarnya dan beberapa tembang bertempo medium yang riang dengan angle khas “sudut pandang pria” (personel band ini memang diawaki cowok-cowok keren!). Simak saja kalimat manis yang tertera dalam album ini : “Album ini dipersembahkan untuk para lelaki yang mencintai wanitanya dan para wanita yang telah membuat indah dunia”. Tembang mellow itu seperti “Aku, Dirimu, Dirinya” dan “Cinta Sendiri”. Sedangkan yang bertempo medium dengan irama riang seperti “Kau Ubah Hariku”, “Mengapa Terlambat” dan “Merasa Tak Dicinta”. Bahkan, Kahitna menelurkan kembali lagu lama dengan aransemen baru nan ciamik yaitu tembang “Katakan”. Tembang daur ulang ciptaan Yovie ini diaransemen ulang ala acid jazz yang asyik membelai telinga. Source musikji.t35.com
Copyright 2007. All Rights Reserved. |